Profesi Sopir: Saksi Bisu yang Tidak Pernah Masuk Buku Sejarah

Di jalan raya, ada satu pemandangan yang hampir tidak pernah diperhatikan orang. Pemandangan itu begitu biasa sampai mata manusia melewatinya seperti melewati tiang listrik di pinggir jalan.
Driver mengemudikan mobil dinas dengan tenang di kursi setir kiri, sementara seorang pejabat penting duduk di kursi belakang. Visual menggambarkan profesi sopir sebagai saksi bisu perjalanan tokoh-tokoh penting yang sering terlupakan dalam catatan sejarah.
Seseorang duduk di balik setir.
Tangannya memegang kemudi. 

Matanya memindai jalan. 
Kakinya mengukur gas dan rem. 
Ia menunggu.

Kadang menunggu di depan hotel mewah. 
Kadang menunggu di pelataran rumah sakit. 

Kadang menunggu di bawah terik matahari, 
sementara orang yang dibawanya sedang rapat, 
makan malam, 
atau berbicara tentang keputusan-keputusan besar.

Saat orang-orang melihat mobil mewah, mereka jarang bertanya:

"Siapa yang mengemudikannya?"

Mereka lebih sibuk bertanya:

"Mobil apa itu?"

Padahal sejarah manusia diam-diam menyimpan rahasia yang menarik. Di balik para kaisar, paus, raja, jenderal, presiden, dan orang-orang yang mengubah dunia, hampir selalu ada satu sosok yang berdiri beberapa langkah di belakang.


Sosok yang sering hadir di foto, tetapi tidak pernah disebut namanya. 
Saksi bisu yang selalu ada, tetapi hampir tidak pernah masuk buku sejarah.

Profesi yang Sering Dipandang Sebelah Mata

Mari jujur.

Di banyak tempat, profesi sopir masih sering dipandang sebagai pekerjaan kelas bawah.
Ada orang yang berkata:

"Cuma sopir."

Kalimat pendek.
Dua kata.

Tetapi kadang terasa seperti menurunkan martabat seseorang menjadi sekadar alat penggerak roda. Aneh memang. Karena orang yang mengatakan itu mungkin mempercayakan anaknya kepada sopir sekolah.

Mempercayakan hidupnya kepada sopir bus.
Mempercayakan keluarganya kepada sopir ambulans.
Mempercayakan keselamatannya kepada sopir pribadi.

Dan mempercayakan negaranya kepada orang-orang yang juga memiliki sopir.

Ada ironi kecil di sana.

Profesi ini sering diremehkan oleh orang yang diam-diam bergantung padanya. Seolah-olah setir hanyalah lingkaran plastik dengan logo di tengahnya. Padahal setir adalah tempat keputusan lahir dalam hitungan sepersekian detik.

Sebelum Ada Sopir, Ada Kusir Kepercayaan

Jika kita mundur jauh ke masa lalu, sebelum mesin diesel meraung, sebelum Toyota, Mercedes-Benz, atau Rolls-Royce lahir, manusia telah mengenal konsep yang sangat mirip dengan sopir.

Mereka disebut kusir.

Di kerajaan-kerajaan kuno 
Yunani, 
Mesir, 
Romawi, 
Persia, 
Tiongkok, 

hingga berbagai peradaban lainnya, kereta kuda bukan sekadar alat transportasi. Kereta adalah simbol kekuasaan. Dan orang yang memegang kendalinya bukan orang sembarangan. Karena membawa seorang raja berarti membawa masa depan kerajaan.

Bayangkan sejenak.

Seorang kaisar berdiri di atas kereta perang.
Panah beterbangan.

Pedang saling beradu.
Debu menutupi langit.

Di tengah kekacauan itu, 
ada seseorang yang bertugas mengendalikan arah, 
kecepatan, dan keselamatan.

Kusir.

Jika kusir salah mengambil jalur beberapa detik saja, 
sejarah mungkin berubah.

Kerajaan bisa jatuh.
Perang bisa kalah.
Raja bisa mati.

Mungkin nama para kaisar tercatat di buku sejarah.

Tetapi nama kusirnya?
Hampir tidak ada.

Mereka hilang seperti debu di roda kereta.

Dunia Modern Hanya Mengganti Kuda Menjadi Mesin

Waktu bergerak.
Kuda diganti mesin.

Roda kayu diganti ban.
Cambuk diganti pedal gas.

Tetapi satu hal tidak berubah:

Orang-orang penting tetap membutuhkan seseorang di balik kendali.

Lihat dunia hari ini.

Presiden memiliki sopir.
Perdana Menteri memiliki sopir.
Jenderal memiliki sopir.

CEO perusahaan raksasa memiliki sopir.
Paus memiliki sopir.
Pemimpin negara adidaya memiliki sopir.

Karena ada satu hal yang dipahami oleh mereka: 

Mengemudi bukan sekadar memindahkan kendaraan dari titik A ke titik B.
Mengemudi adalah menjaga fokus orang yang dibawa.

Bayangkan Presiden Amerika Serikat.
Di dalam mobil, ia mungkin sedang membaca laporan intelijen.

Sedang menyiapkan pidato.
Sedang memikirkan keputusan yang memengaruhi jutaan orang.

Bayangkan Paus.

Di dalam kendaraan, 
mungkin beliau sedang berdoa atau mempersiapkan pertemuan besar.

Bayangkan seorang CEO perusahaan teknologi. 
Mungkin di kursi belakang ia sedang menandatangani kesepakatan bernilai miliaran dolar.

Di depan?

Ada sopir.
Diam.
Fokus.

Memastikan perjalanan tetap berjalan.

Orang-Orang Besar Percaya Pada Sopir Mereka

Ada alasan mengapa posisi sopir pribadi sering menjadi posisi yang sangat sensitif.

Karena sopir mengetahui banyak hal.
Kadang terlalu banyak.

Sopir tahu ke mana seseorang pergi.
  • Tahu jam berapa ia pulang.
  • Tahu kebiasaan kecil yang bahkan orang terdekatnya tidak tahu.
  • Tahu kapan seseorang sedang marah.
  • Tahu kapan seseorang sedang sedih.
  • Tahu kapan seseorang diam terlalu lama.
Sopir mendengar percakapan telepon.

Mendengar diskusi bisnis.
Mendengar kabar baik.
Mendengar kabar buruk.

Mendengar hal-hal yang mungkin tidak akan pernah keluar ke publik. Karena itu, hubungan antara seorang sopir dan orang yang dibawanya sering lebih dekat daripada yang dibayangkan orang.

Bukan dekat dalam arti pertemanan.

Tetapi dekat dalam arti kepercayaan.
Kepercayaan yang tidak tertulis.

Kepercayaan yang diam.

Di Jalan Raya, Sopir Adalah Pembaca Manusia

Banyak orang berpikir pekerjaan sopir hanya:

  • Nyalakan mesin.
  • Gas.
  • Belok.
  • Parkir.
Selesai.

Padahal kenyataannya jauh lebih rumit.

Sopir membaca jalan.

Tetapi sopir juga membaca manusia.

  • Ia harus membaca pengendara motor yang bergerak seperti karakter game yang kehilangan tombol rem.
  • Ia harus membaca mobil yang sein kiri tetapi belok kanan.
  • Ia harus membaca pejalan kaki yang tiba-tiba berubah pikiran di tengah jalan.
  • Ia harus membaca hujan.


Membaca kemacetan.
Membaca situasi.
Membaca emosi.

Kadang semua itu harus diproses dalam hitungan detik. 
Karena di jalan raya, kesalahan kecil bisa memiliki harga yang sangat mahal.

Sopir Ambulans dan Waktu yang Berdetak Lebih Cepat

Sebagai seorang sopir ambulans, 
saya sering merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Saat sirene menyala, 
waktu seperti berubah bentuk.

Detiknya tetap enam puluh.
Tetapi rasanya berbeda.


Di belakang ada pasien.
Ada keluarga.
Ada harapan.
Dan di depan ada kemacetan yang tidak peduli.

Di situ orang mungkin hanya melihat:

"Ambulans lewat."

Tetapi mereka tidak pernah melihat keputusan-keputusan kecil yang dibuat sang sopir.

Apakah ambil jalur kanan?
Apakah pindah ke kiri?

Apakah harus mengurangi kecepatan?
Apakah jalan ini terlalu berguncang?

Karena kadang cepat bukan berarti baik. 
Kadang terlalu cepat justru membuat keadaan lebih buruk.

Hal-hal seperti itu tidak pernah muncul dalam deskripsi pekerjaan.
Tetapi hidup sering berada di sana.
Di ruang kecil antara pedal gas dan pedal rem.

Sejarah Menulis Nama Raja, Bukan Orang yang Membawanya

Ada pola menarik dalam sejarah manusia.

Kita mengingat Napoleon.

Tetapi tidak mengingat orang yang mengantar Napoleon.

Kita mengingat Kaisar Romawi.
Tetapi tidak mengingat kusirnya.

Kita mengingat presiden John F Kennedy.
Tetapi tidak mengingat siapa yang mengemudikan mobilnya.

Padahal mungkin sopir itu telah menemaninya selama puluhan tahun.

Mungkin sopir itu melihat naik turunnya kekuasaan.
Mungkin sopir itu melihat air mata yang tidak pernah dilihat kamera.
Mungkin sopir itu melihat sisi manusia dari seseorang yang di mata dunia terlihat sempurna.

Tetapi sejarah sering memilih tokoh utama.

Bukan orang di belakang layar.

Dunia Bergerak Karena Banyak Orang Tak Terlihat

Mungkin inilah masalah terbesar manusia modern.

Kita terlalu terpaku pada panggung.
Kita lupa pada kru di belakang panggung.

Kita mengagumi penyanyi.
Tetapi lupa operator suara.

Kita mengagumi aktor.
Tetapi lupa kameramen.

Kita mengagumi pemimpin.
Tetapi lupa orang-orang yang menjaga roda tetap berputar.

Termasuk sopir.

Karena jika semua sopir di dunia tiba-tiba berhenti selama satu hari saja, kekacauan mungkin datang lebih cepat daripada yang dibayangkan.
  • Sekolah terganggu.
  • Rumah sakit terganggu.
  • Distribusi barang terganggu.
  • Perjalanan terganggu.
  • Aktivitas negara terganggu.
Karena roda dunia ternyata digerakkan banyak tangan yang jarang mendapat tepuk tangan.

Penutup

Orang di Balik Setir yang Tidak Pernah Mencari Panggung. 

Malam semakin larut. 
Lampu jalan memantul di kaca depan. 

Di suatu tempat, mungkin ada sopir yang masih menunggu majikannya selesai rapat. Di suatu tempat lain, ada sopir bus yang sedang menempuh perjalanan antarkota. Di tempat lain, ada sopir ambulans yang baru selesai mengantar pasien.

Dan mungkin di tempat lain lagi, 
ada seseorang yang baru saja mendengar kalimat:

"Ah... cuma sopir."

Padahal sejak ribuan tahun lalu, 
manusia besar selalu memiliki seseorang yang memegang kendali perjalanan mereka.

Dari kereta perang para kaisar hingga limusin para presiden.
Dari roda kayu hingga mesin modern.
Dari kuda hingga kendaraan listrik.

Waktu berubah.
Kendaraan berubah.
Teknologi berubah.

Tetapi satu hal tetap sama:

Di balik orang-orang yang mengubah dunia, 
sering ada seseorang yang diam di balik setir.

Seseorang yang tidak meminta panggung.

Tidak meminta nama besar.
Tidak meminta masuk buku sejarah.

Tetapi tanpa mereka...

mungkin sebagian sejarah tidak pernah sampai ke tujuannya. 
Tidak semua individu yang memegang arah, mendapatkan sorotan.

Post a Comment for "Profesi Sopir: Saksi Bisu yang Tidak Pernah Masuk Buku Sejarah"