Catatan Tengah Malam Secret Driver: Jalanan Jakarta dari Balik Sirine Hiace

Jakarta, pukul 02.24 WIB. Dunia masih berputar, tapi waktuku terasa berhenti. Lampu kota membias di kaca depan, memantul di permukaan dashboard Toyota Hiace Commuter yang kuhuni malam ini. Sirine belum kupencet. Tapi ketegangannya sudah merambat lebih cepat daripada rotator yang baru saja kupasang minggu lalu.
Gambar seorang sopir sedang memeang stir malam hari
Ini bukan sekadar mobil. Ini bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah kabin depan dari realita yang tak pernah masuk berita utama. Dan inilah catatan tengah malamku. Dari balik kemudi ambulans, dari balik sirine Hiace, dari balik kehidupan yang sering dianggap tak penting sampai semuanya terlambat.

1. Jalanan Malam Itu Punya Suaranya Sendiri

Jakarta di malam hari bukan kota yang tidur. Ia hanya berubah nada. Tak lagi bising dengan klakson dan kemacetan, tapi berganti dengan suara mesin tua, gesekan ban di aspal basah, dan kadang… tangis. Tangis dari balik tandu, atau tangis diam dari seorang sopir ambulans yang mencoba terlihat tegar.

Ketika jalanan kosong, suara sirine kami menggema seperti doa yang tak sempat dilantunkan. Bukan hanya untuk pasien yang kami bawa, tapi untuk semua yang kami tinggalkan dalam perjalanan, waktu, keluarga, bahkan kesehatan kami sendiri.

Dan Jakarta? Ia kadang menjawab. Dengan lampu merah yang tak mau kompromi, dengan pemotor yang pura-pura tak dengar, atau dengan mobil mewah yang merasa ambulans tak pantas mendahului.

2. Hiace, Kabin Depan, dan Kursi yang Menjadi Saksi

Toyota Hiace Commuter ini bukan ambulans tercepat. Tapi ia setia. Mesinnya 2KD, diesel tangguh yang menderu seperti napas pendek pasien yang kami bawa. Kabin depannya luas, cukup untuk dua orang dewasa dan segunung beban tak kasatmata.

Setiap malam, kursi pengemudi ini menjadi kursi pengakuan. Di sinilah aku mendengarkan keluh paramedis yang baru kehilangan pasien. Di sinilah kadang aku terdiam, ketika aku merasa sirine itu tak cukup keras untuk mengusir kematian.

Dan tahukah kamu? Dari kabin depan ini, aku belajar satu hal penting: bukan siapa yang paling tahu rute tercepat, tapi siapa yang paling tenang saat waktu terasa kehabisan detik.

3. Sirine: Simbol Harapan atau Gangguan di Jalanan?

Sirine kami tak selalu didengar dengan hormat. Ada yang menutup kaca jendela mobilnya dan pura-pura tidak tahu. Ada yang malah balapan. Ada pula yang berkata, “Ah, pasti kosong itu ambulansnya. Mau lewat aja biar cepet.”

Lucu ya? Di negeri yang katanya menjunjung tinggi kemanusiaan, sirine bisa dianggap sekadar musik latar. Tapi bagi kami, itu adalah nyawa. Itu alarm perang kami.

Kami tak minta dipuja. Tapi setidaknya, dengarlah. Buka jalan. Karena di balik suara sirine, ada tubuh yang menggigil, ada napas yang menipis, ada keluarga yang belum siap ditinggal.

4. Paramedis, Pasien, dan Secret Driver

Trio Tanpa Skenario. Di dalam ambulans, kami bertiga, pasien, paramedis, dan aku, bukanlah tokoh utama sinetron jam tayang utama. Kami hanyalah pengembara waktu yang berkejaran dengan takdir.

Paramedis adalah pahlawan tanpa jubah. Tangannya cekatan, tapi jantungnya juga kadang sesak. Ia harus profesional meski tahu pasien itu anak tetangganya.

Pasien, tentu saja, adalah pusat semuanya. Tapi anehnya, dialah yang paling tak bersuara. Dan aku? Aku sopir. Sopir yang harus tahu kapan melaju, kapan berhenti, dan kapan pasrah.

Kami bertiga seperti trio tak sempurna dalam orkestra darurat. Tidak selalu harmonis. Tapi kami bermain dalam partitur yang sama: menyelamatkan satu jiwa lagi.

5. Jalanan Jakarta dan Filosofi Lampu Merah

Pernah nggak kamu berpikir, kenapa lampu merah tetap merah meski sirene meraung? Karena hukum kota kadang lebih kejam daripada waktu.

Kami dituntut cepat, tapi dibatasi rambu. Kami diminta tanggap, tapi dihalangi pagar jalan. Dan ketika kami dihentikan oleh polisi yang tak tahu kami bawa pasien kritis, itu bukan salah mereka sepenuhnya. 

Itu salah sistem yang lebih sibuk mengatur ketertiban ketimbang memberi ruang untuk darurat. Lampu merah itu filosofinya dalam. Kadang kita harus berhenti walau tak ingin. Kadang kita harus pasrah pada sesuatu yang tidak bisa kita ubah.

6. Ketika Ambulans Jadi Rumah Kedua

Selama bertahun-tahun menjadi Secret Driver, ambulans ini sudah seperti rumah kedua. Di sinilah aku makan (kadang cuma roti sobek dan kopi sachet), di sinilah aku tidur (kadang hanya rebah 20 menit), dan di sinilah aku merasa… hidup.

Karena hidup bukan soal nyaman, tapi soal berguna. Dan setiap kali pasien sembuh, atau keluarga mengucap terima kasih dengan mata berkaca-kaca, rasanya lebih nikmat dari gaji yang datang telat dua minggu.

7. Sisi Gelap yang Tak Terlihat

Tapi jangan kira semua malam itu puitis. Ada sisi gelap yang tak masuk kamera dokumenter. Ada keluarga pasien yang marah karena ambulans datang telat, tanpa tahu kami baru saja mengantar jenazah. Ada permintaan aneh: “Tolong lewat jalan yang gak terlalu goyang, pasien saya muntah kalau kena polisi tidur.”

Atau yang paling menyayat: “Pak, saya tidak punya uang. Tapi tolong bantu bapak saya. Dia belum sempat peluk cucunya.” Dan kami bantu. Karena di balik Hiace ini, kami masih manusia. Bukan sekadar operator kendaraan medis.

8. Rahasia yang Hanya Diketahui Sopir Ambulans

Kalau kamu pikir jadi sopir ambulans cuma soal nyetir, kamu salah besar. Kami juga jadi navigator saat Google Maps malah ngaco. Jadi psikolog dadakan saat keluarga pasien panik. Jadi tukang dorong saat lift rumah sakit mogok. Dan kadang, jadi saksi terakhir dari hidup seseorang.

Kami tahu rumah sakit mana yang cepat, mana yang ribet. Kami hafal jalan tikus lebih dari tukang ojek. Kami tahu kapan harus pura-pura tegas, dan kapan harus diam. Itulah kenapa kami memilih diam. Karena beberapa rahasia, hanya bisa dipahami oleh mereka yang melihat kematian dari jarak satu meter setiap malam.

Kesimpulan

Jalanan yang Mengubahku. Sekarang pukul 03.15. Udara makin dingin, dan Hiace ini masih panas oleh sisa napas pasien sebelumnya. Rotator mati. Sirine diam. Tapi pikiranku masih meraung.

Aku bukan siapa-siapa. Hanya pengemudi dengan seragam lusuh dan wajah yang jarang masuk feed Instagram. Tapi setiap malam, aku menyusuri jalanan Jakarta dengan satu misi, memberi waktu lebih panjang bagi mereka yang hampir kehabisan.

Jadi jika suatu malam kamu dengar sirine meraung di kejauhan, jangan cuma berpikir: “Ah, ambulans.”
Pikirkan ini, mungkin, hanya mungkin, suara itu membawa detik terakhir seseorang, yang bisa saja keluargamu.

Dan saat kamu beri jalan, kamu bukan hanya sopan. Kamu menjadi bagian dari kisah ini. Kisah yang hanya bisa ditulis oleh mereka yang diam-diam bertarung melawan waktu, dari balik sirine Hiace, di jalanan Jakarta yang tak pernah benar-benar tidur.

Kita bukan pahlawan, 
kita sopir. 
Tapi malam tahu siapa yang tetap berjalan saat yang lain memilih tidur 

Post a Comment for "Catatan Tengah Malam Secret Driver: Jalanan Jakarta dari Balik Sirine Hiace"